skip to main content

Staff PD: Moving away from one-size-fits-all Pengembangan profesional untuk guru dan tenaga kependidikan: Beranjak dari ‘satu ukuran untuk semua’

Short articles
Authors: Jo Earp
Staff PD: Moving away from one-size-fits-all

Developing the expertise of teaching and catering for the diversity of learners is a key element in improving outcomes for all students.

Research shows that, in the classroom, teachers should be seeking to identify and address the learning needs of individual students. So, should school leaders be thinking along the same lines when it comes to planning staff professional development?

Sarah Verdaguer is a Primary School Principal at Global Jaya School – a K-12 International Baccalaureate (IB) school in Tangerang, Indonesia. She says the school has focused on moving away from a ‘one-size-fits-all’ approach to staff professional development.

‘Too many schools have that “let’s do PD, all together, in one room” approach, with the idea that “we all need to know this”, she tells Teacher. ‘We are looking at it more from a classroom perspective. When we walk into a classroom, we have different students, different preferences, all sorts of things to consider, but we traditionally have not done the same for teachers’ professional development.

‘What we’ve tried to do within our school over the last few years is to individualise professional development and ensure that our teachers are making the most of their experiences, while still addressing schoolwide initiatives and growth.

‘It is a combination of providing diverse opportunities, encouraging teacher voice and agency, supporting access to a variety of professional development resources and facilitating sessions which create avenues for individualised ‘take-aways’ and implementation according to teacher and student needs’.

Verdaguer is joint principal of the K-6 Primary with an Indonesian colleague. There are around 70 teachers, including specialists, and the school operates under a dual language of instruction approach; Indonesian and English. In the classroom, expatriate and Indonesian teachers work as a team and are responsible for student learning together.

As with any school, there’s a range of expertise, experience and developmental needs among Global Jaya staff. ‘… So, it is vital that we are aware of where people are coming from and how best they might access information and apply it in their own classroom. We put ourselves in the shoes of the people we’re trying to develop.’

The school has introduced a structure to guide professional growth and development. Verdaguer says the core objective is to improve student outcomes. ‘For us, that was the main focus – how can we make sure that our professional development is actually having an impact?’

The program is informed by the school’s Strategic Action Plan and teacher feedback, and centres around eight professional standards, seven of which came from James Stronge’s work on teacher evaluation and development. ‘The standards range from professional knowledge and assessment for/of learning to instructional reflection and student progress.’

In Term 1, Verdaguer distributes a Google Doc to teachers which includes the professional standards, suggestions for how they might want to target their professional development (which takes into account the strategic priorities), and options for support and resources they may need. Teachers then put together an individual action plan.

‘They might request a mentor or a coaching sort of relationship, or access information and resources from a variety of different sources, including those within the school community or online – they have options as to where and how they want to complete the process. They are also assigned a PD Buddy, so they can come together to discuss their ideas, reflect on where they’re up to and where they would like to go next. Their buddy might make some suggestions, maybe identify somebody that they should work with, or go and observe teaching, or share a relevant resource … those types of things.’

Time is built into teachers’ schedules every three weeks to work on professional growth and development. That may mean working independently, collaborating, using the time to observe a colleague or reflecting on progress or setting up something they’re wanting to implement in the classroom as a result of what they have learned.

‘It does give the teachers a lot of autonomy in what they’re doing, but also accountability and responsibility going forward as well,’ Verdaguer explains. ‘That’s an expectation as a teacher at Global Jaya, you must develop professionally, and we find that they really engage with the process. It’s a big part of what they do because they have a say over what they focus on and how they go about it.’

She says there are lots of PD options available to staff, including IB workshops throughout the Asia Pacific region, conferences, involvement in the Indonesian IB learning community, IB Dunia (which runs a teachers’ conference), and in-house PD that utilises leadership and subject-specific expertise. Staff can also collaborate through their intranet connections, Google Drives, and a teachers’ board where they can share their thoughts and ideas on a monthly theme.

‘We’ve got many different types of professional development opportunities in place – anything creative. And flexibility to suit a teacher’s schedule and commitments. We do a lot of sharing … whether it’s an article, an infographic, or whatever it might be. Whether you’re an assistant teacher or a principal, everybody, if you see something share it. It is not really a structure, it’s part of our school culture, I suppose, it is how we dive into professional development.’

During Term 3, teachers reflect on their action plan progress and talk with their PD buddy, then present to year level colleagues about what they’ve learned and how it has impacted student learning. At the end of Term 3, teachers identify two specific areas they’d like to target for professional development in the following school year.

‘What we’ve actually found is, the more individualised our approach, the more teachers are engaged with the process and the more they actually go beyond expectations, ensuring an even greater impact on student learning.’

Mengembangkan keahlian mengajar dan mengakomodasi keragaman peserta didik adalah elemen kunci dalam meningkatkan hasil untuk semua siswa.

Penelitian menunjukkan bahwa guru harus berusaha mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan belajar masing-masing siswa di dalam kelas. Jadi, apakah seharusnya para pimpinan sekolah mulai berpikir selaras dengan hal tersebut dalam hal perencanaan pengembangan profesional staf?

Sarah Verdaguer adalah kepala sekolah dasar di Global Jaya School, sebuah sekolah formal tingkat dasar sampai menengah atas dengan program International Baccalaureate (IB) yang berada di Tangerang, Indonesia. Dia mengatakan sekolahnya telah memfokuskan diri untuk tidak lagi menerapkan pendekatan 'satu ukuran untuk semua' dalam hal pengembangan profesional (professional development / PD) staf.

“Kebanyakan sekolah menerapkan pendekatan ‘Mari kita lakukan PD bersama-sama dalam satu ruangan’, dengan dasar bahwa ‘kita semua perlu mengetahui hal ini’,” katanya kepada Teacher. “Namun, kami melihatnya lewat perspektif ruang kelas. Ketika kita memasuki ruang kelas, kita memiliki siswa yang berbeda-beda yang memiliki pilihan yang berbeda, serta berbagai hal yang dipertimbangkan dalam memberikan pengajaran. Namun, biasanya kita belum melakukan pendekatan yang sama untuk pengembangan profesional guru.”

 “Apa yang kami coba lakukan di sekolah selama beberapa tahun terakhir adalah untuk individualisasi pengembangan profesional guru dan memastikan bahwa mereka memanfaatkan pengalaman mereka sebaik-baiknya, sambil tetap menjalankan program dan inisiatif pengembangan sekolah.”

“Hal ini adalah kombinasi antara memberikan beragam kesempatan, mendorong suara dan peran guru, mendukung akses ke berbagai sumber daya pengembangan profesional dan sesi-sesi fasilitasi yang dapat memberikan manfaat untuk individu serta dapat diimplementasi sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa.”

Sebagai seorang kepala sekolah dasar, Verdaguer juga bermitra bersama seorang rekan yang berasal dari Indonesia. Sekolah ini memiliki sekitar 70 guru, termasuk guru spesialis bidang studi, dan kegiatan belajar mengajar disampaikan dalam metode dua bahasa; Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Di kelas, guru asing dan Indonesia bekerja sebagai tim dan bertanggung jawab untuk pembelajaran siswa bersama-sama.

Seperti halnya sekolah manapun, terdapat berbagai keahlian, pengalaman, dan kebutuhan pengembangan profesional bagi para staf Global Jaya. “Jadi, sangat penting bahwa kita mengetahui latar belakang masing-masing staf dan cara terbaik bagi mereka untuk mengakses informasi dan menerapkannya di kelas masing-masing. Kami mencoba menempatkan diri kami pada posisi guru yang kami coba kembangkan.”  

Sekolah telah memperkenalkan struktur untuk memandu pertumbuhan dan pengembangan  profesional. Verdaguer mengatakan tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa. “Bagi kami, itu adalah fokus utama - bagaimana kami dapat memastikan bahwa bagaimana pengembangan profesional kami benar-benar memberikan dampak?”

Program ini didasarkan pada Rencana Aksi Strategis sekolah dan umpan balik guru, dan berpusat di sekitar delapan standar profesional, yang tujuh di antaranya berasal dari karya James Stronge tentang evaluasi dan pengembangan guru. “Acuan yang diterapkan berkisar dari pengetahuan profesional dan penilaian untuk/tentang pembelajaran untuk refleksi pembelajaran dan kemajuan siswa.”

Di term pertama tahun ajaran, Verdaguer mendistribusikan Google Doc kepada para guru yang berisi standar profesional, saran untuk target pengembangan profesional mereka (yang mencakup prioritas strategis), dan pilihan untuk dukungan dan sumber daya yang mungkin mereka butuhkan. Guru kemudian menyusun rencana aksi individu.

“Mereka dapat meminta pembinaan mentor, atau mengakses informasi dan sumber daya dari berbagai sumber yang berbeda, termasuk dari komunitas sekolah dan sumber daring. Pilihan mengenai arah dan bagaimana mereka ingin menyelesaikan proses tersebut juga tersedia bagi mereka. Selain itu, mereka juga didampingi oleh seorang Sahabat PD yang menjadi rekan dalam mendiskusikan ide dan arah pengembangan profesional secara bersama. Sahabat PD juga dapat mengajukan saran, seperti mengidentifikasi seseorang yang bisa menjadi rekan guru untuk bekerja sama, mengobservasi pengajaran di kelas, serta berbagi informasi yang relevan, dan hal lainnya.”

Para guru secara rutin mengatur rencana pertumbuhan dan pengembangan profesional mereka setiap tiga minggu. Hal ini dapat dikerjakan baik secara mandiri, berkolaborasi, menggunakan waktu untuk mengobservasi seorang kolega, atau merefleksikan kemajuan atau mengatur sesuatu yang ingin mereka terapkan di kelas sebagai hasil dari apa yang telah mereka pelajari.

“Cara ini memberikan kebebasan bagi para guru untuk secara mandiri melakukan apa yang telah mereka rencanakan, namun di satu sisi juga memberikan akuntabilitas dan tanggung jawab untuk terus bertumbuh,” jelas Verdaguer. “Di Global Jaya, para guru diharapkan untuk terus berkembang secara profesional, dan kami melihat bahwa mereka benar-benar terlibat dalam proses tersebut. Hal ini menjadi bagian dan pencapaian besar dari pekerjaan mereka, karena para guru boleh ikut memutuskan tentang apa yang mereka fokuskan dan bagaimana cara mereka melakukannya.”

Lebih lanjut, Verdaguer mengatakan ada banyak pilihan pengembangan profesional yang tersedia bagi para staf, termasuk pelatihan dan konferensi IB di seluruh wilayah Asia Pasifik. Mereka juga dapat terlibat dalam komunitas pembelajaran IB Indonesia, konferensi guru IB Dunia, dan pelatihan internal untuk PD tentang kepemimpinan dan keahlian khusus bidang studi. Staf juga dapat berkolaborasi melalui koneksi intranet mereka, Google Drive, dan dewan guru di mana mereka dapat berbagi pemikiran dan ide-ide yang sesuai dengan dengan tema bulanan.

“Kami memiliki berbagai jenis peluang pengembangan profesional – terutama hal-hal yang kreatif – dan fleksibilitas sesuai dengan jadwal dan komitmen guru. Kami juga banyak berbagi artikel, infografis, atau informasi apapun kepada siapapun, termasuk asisten guru atau kepala sekolah. Siapapun yang memiliki sesuatu yang bermanfaat, dapat langsung membagikannya. Hal ini sebenarnya bukan mengenai struktur, namun merupakan bagian dari budaya sekolah kami. Menurut saya, ini adalah komitmen kami bagi pengembangan profesional staf.”

Selama term ke-3, guru merefleksikan kemajuan rencana aksi mereka, mendiskusikannya kepada Sahabat PD, kemudian menyampaikannya kepada rekan kerja di tingkat kelas yang sama tentang apa yang telah mereka pelajari dan bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi pembelajaran siswa. Pada akhir term ke-3, guru mengidentifikasi dua bidang khusus yang ingin mereka sasar untuk pengembangan profesional di tahun ajaran berikutnya.

"Apa yang sebenarnya kami bangun adalah, semakin personal pendekatan yang dilakukan untuk pengembangan profesional guru, semakin besar keterlibatan mereka dalam proses tersebut, dan hasil yang diperlihatkan benar-benar melampaui harapan, sehingga memberikan dampak yang lebih baik terhadap pembelajaran siswa."

As a school leader, how do you assess the professional development needs of staff? Are professional development programs at your school linked to strategic priorities?

Think about your own professional development in the last 12 months. What impact has it had on your classroom practice? What impact has it had on student outcomes?

Sebagai pimpinan sekolah, bagaimana Anda menilai kebutuhan pengembangan profesional staf? Apakah program pengembangan profesional di sekolah Anda berkaitan dengan prioritas strategis sekolah?

Mari pikirkan tentang pengembangan profesional Anda sendiri dalam 12 bulan terakhir. Apa dampaknya terhadap praktik pengajaran di kelas Anda? Apa dampaknya terhadap hasil pembelajaran para siswa?


Skip to the top of the content.